Thursday, May 3, 2018

Sore Tanda Esok Ada

Sekilas terlihat cengeng sekali seorang yang biasa berbahagia keliatan gak berdaya.

Pagi, rasanya sejuk sekali. Menantang berani seluruh dunia, Sang Optimis, tidak takut apa-apa.
Nyalahin motor matic yang masih harus dibayar ke orang tua, tarikannya sungguh masih bertenaga.
Bu, sapa ia ke tetangga-tetangga yang lagi bersihin halaman. Mereka nyapa balik "hei, berangkat?" Ia jawab singkat dengan semangat, "Iya bu"

Diawali dari kumandang panggilan Salat, sampai jam 7 waktu paginya terasa sempurna.

Pelosok kota Depok, rasanya paling berperan atas kebahagiaan pagi ini. Embun, Kabut, entah apa namanya yang jelas ini bikin suasana pagi yang nyaman, dingin, penuh optimisme. Ia sepenuhnya merasa seperti Roja

Setelah rutinitas bersiap-siap,akhirnya ia menarik tuas gas, dan caw ..

Bersyukur dia tinggal di daerah kayak gini. Setidaknya dia masih bisa merasa sombong, sampe keluar dari area kelurahan.

Tepat di tugu, pembatas area kelurahan, perlahan kenyataan mulai hadir. Tapi sifat optimistiknya gak akan luntur cuma karena meninggalkan area kelurahan beberapa meter.

Lalu berkilo-kilo meter .. (Tetap optimis)

Lalu berpuluh-puluh kilo meter, dan dunia mulai menampar.

Diparkirlah si motor matic yang bernama Vera itu. Mulai tercium bau kenyataan yang telah diatur sedemikian rupa sehingga tercium seperti ini. Amis, kamu pasti gak kuat.

Setapak demi setapak, Sang Optimis mulai menaiki tangga, mencari tempat duduk, berpikir dan bekerja. Tidak banyak yang tahu bagaimana caranya bekerja. Jelas karena ia seorang diri. Tidak dipedulikan berarti sendirian bukan?

Dia seorang yang tidak bisa diam seharusnya, tapi tidak dengan sekarang. Dia cuma berkata seadanya, seperti dibentuk menjadi robot. Seperti manusia lainnya di dunia ini.

Pekerjaannya sebenarnya khusus untuk manusia, 100% pikiran manusia diperlukan dalam hal ini. Sayangnya perintah diprogram untuk robot. Ia diharuskan mencari irisan dari orang-orang yang berbeda. Produktif bukan lagi kata, bagaikan mining bit coin, ia harus mencoba seluruh kode untuk memuaskan si pemberi perintah.

Minta - Tolak - Minta - Tolak

Jika hanya itu sebenarnya bukan masalah komplek, menjadi masalah komplek ketika dia sadar dia telah menjadi robot seutuhnya, tapi ia tetap sendirian.

Sungguh, jika suatu saat nanti kamu jadi robot, kamu akan patuh. Terlebih terhadap jam istirahat pula jam pulang.
Robot pun tak pernah menikmati waktu, karena selalu menghitung waktu yang ia gunakan karena sekali lagi, ia bukan manusia.

Jam pulang yang ia patuhi pun datang dengan lambat.

Dengan ijin seadanya, ia mulai pulang dan kembali menapaki tangga yang masih bau akan kenyataan.

Agaknya optimisme itu pudar bahkan hilang meskipun ia telah menuruni tangga itu.
Menarik tuas gas kembali, dan berpikir apa yang akan ia hadapi beberapa saat lagi, setelah lampu merah kedua.

Hingga saat itu datang, tak akan kembali pula rasa percaya diri pagi tadi.

Sore, sore akan tetap sama. Lampu merah belakang kendaraan akan senantiasamenyala karena tuas rem akan sering ditekan di sepanjang jalan ini.
Berbanding lurus dengan rasa puas diri yang terlalu dalam ditekan dan lama-kelamaan hilang.

Ketika manusia lain bilang hidup bukan hanya tentang kenyamanan, Ia selalu bertanya, lalu hidup untuk apa?
Ketika manusia lain berceramah, kesengsaraan merupakan pelajaran. Ia selalu bertanya, apa belajar harus sakit?

Sore ini ada ialah tanda esok ada.
Sebuah perputaran yang selalu sama
Jenuh, tapi ia bukan lagi manusia
hingga malam menutup matanya



-Untuk Budak Korporat di seluruh dunia





    Choose :
  • OR
  • To comment
No comments:
Write komentar