Saturday, March 27, 2021

Ikatan Cinta - Tanpa batas waktu
Friday, June 12, 2020

Tatanan Dunia Baru - Komentar negatif..
Saturday, August 25, 2018

Gue pas milih kuliahan!!!!!!
“Ja, lu pinter juga ja bisa kuliah negeri.”
“Wah, mantep tuh kuliah di situ.”
“Anjayyy, a en je a ye ~”
“Aku mau jadi pacar kakak ah, soalnya keren kampusnya.”
“Plis, jadi mantu saya ya nak, saya pengen punya mantu yang kuliahnya di sana.”
Haha bingung nih ngelanjutnya begimana. Tapi mungkin itu yang dipikirin waktu ngeliat orang masuk kampus negeri. Tapi ga semulus itu .. itu bayangan kalian doang tuh pas masih jadi dedek-dedek pencari bangku kuliah.
Keinget dulu pas tingkat 3, gue sama sekali gak ngerti mau kuliah ngambil apa, mau kuliah di mana, mau tinggal di mana, mau makan apa, mau nyuci pake sabun apa, mau milih wipol atau harfic. Sungguh belom ada rencana, blur banget pas itu..
Fyi, dulu gue aktif di ekskul IT yang basicnya harus IPA. Sayangnya dulu gue ga sepinter itu buat masuk IPA, jadi aja IPS. Gue padahal secinta itu sama komputer, sampe kalo jauh suka ga kuat. Ldr emang berat btw..
Okay jadi yang gue tau, gue agak kuat di pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) meskipun remed-remed mah sering, tapi gue bisa benerin kabel proyektor yang colokannya bengkok sama bikin tatakan mouse dari limbah kertas remed.
Sampe suatu hari pak Erwan, dia guru geografi tapi gatau gimana wewenangnya melebihi guru BK dalam snmptn sosialisasi tentang kuliahan. Aih sial, gue gangerti harus tertarik sama apa. Cuma akhirnya gue memutuskan gue pengen kuliah di Undip karena itu sama aja pulang kampung, dan memilik komunikasi karena ada kata komunikasi di pelajaran TIK. Baiklah seenggaknya gue ga bingung kalo pas ditanya orang.
Semakin hari semakin banyak pertanyaan kampret itu “ja mau kuliah di mana? Jurusan apa?”. Dengan mantap gue jawab “Undip Komunikasi” Ya bodoamat lah dengan nilai rapot gue yang, rapotnya aja minder kalo diliat. Gue tetep memantapkan diri dan agak berharap dikit.
Di sini ceritanya udah fix gue mau ambil di sana, udah daftar juga, udah banyak drama juga yang terjadi di BK. Asli kalo bisa gue gambarin, hari terakhir pendaftaran snmptn adalah hari perpecahan dan terdrama di kampus. Orang-orang pinter sikut-sikutan buat daftar jurusan, dan gue .. masih maen gitar dan diancem digampar sama guru sosiologi … (ini serius)
Hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, menghitung hari ……
Hari pengumuman pun tiba, hari yang ditunggu sama pengabdi snmptn. Gue kena euforia degdegannya, seketika dingin pas website loading. Saking lamanya loading soalnya website error, gue jadi es ..
Bisa gue bilang, website snmptn itu website terkejam buat anak-anak SMA “yang gak keterima”. Mainin psikologinya pake warna, merah buat yang ga keterima dan ijo buat yang keterima/biru gitu.
Pengumuman gue? Wkwkwk
“Selamat “mencoba kembali” Anda tidak diterima di kampus …”
Anjayyyyy, biarpun gue realistis sama niali rapot. Tapi gue percaya keajaiban, yang ternyata ga hadir saat itu. Tapi gue ga terlarut dalam kenyesekan itu. Dan gue akan mulai melanjutkan hidup.. main dan bahagia ..
Hingga suatu hari pas nganter nyokap ke cipulir naik motor bebek kesayangan, gue ketilang. Polisi emang nyeremin pas gue gapunya SIM. Melayanglah 100k dari dompet ditambah omelan nyokap karena gabisa nawar hahaha. Malemnya terlintas, “aih jadi jurnalis enak, jarang ditilang gausah bikin sim”. Gue konsultasi ke pak Adi, guru TIK sekaligus sobat kongkow, dia menyarankan buat ngambil salah satu Politeknik di Depok, ya itu dah..
Akhirnya gue ikutin ujiannya, buat kampus ini gue berharap banget, saking gamau bikin SIMnya gue usaha biar masuk. Hingga akhirnya gue berhasil masuk di jurusan Jurnalistik di kampus itu. Belajar terus belajar, yaa enjoy juga belajarnya beginian, praktik bikin sesuatu, pamer-pamer ilmu, ya pokoknya mantap dah. Gue juga ga bikin sim waktu itu..
Hingga gue dihadapkan dengan magang. Gue magang di salah satu koran legendaris Jakarta berbekal kartu pers dan handphone dinas. Gue melenggang Jakarta, dengan tertib tapi santai .. Gue ketemu razia, gue deketin tapi malah diberhentiin ..
Terjadilah percakapan antara P ( pak pol) dan G (gue):
P: Selamat pagi, boleh tunjukan surat-suratnya?
G: (deg-degan) maaf pak saya dari .. ingin liputan
P: Boleh ditunjukan surat-suratnya
G: ini pak kartu pers saya
P: saya minta suratnya mas, kelengkapannya.
G: waduh saya buru-buru pak, ketinggalan
P: jangan-jangan celana dalem kamu ketinggalan juga?
G: engga pak, ini ketat jadi kerasa banget.
P: yaudah, gimana enaknya?
G: *sensor* *sensor* *sensor*
Yaa pada akhirnya uang 100k tetap melayang, dan setidaknya kita bisa ambil pelajaran, sesungguhnya kalo lu mukanya panik saat ada razia lu bakal diberhentiin. Tolong ambil alih kontrol muka saat ada razia, karena itu bisa menyelamatkan 100rebumu untuk berpindah tangan.
Intinya, apapun kuliah lu nikmati prosesnya, lu akan menikmati juga manfaatnya.
Sekian postingan unfaedah dari saya. Bye
Thursday, May 3, 2018

Sore Tanda Esok Ada

Sekilas terlihat cengeng sekali seorang yang biasa berbahagia keliatan gak berdaya.
Pagi, rasanya sejuk sekali. Menantang berani seluruh dunia, Sang Optimis, tidak takut apa-apa.Nyalahin motor matic yang masih harus dibayar ke orang tua, tarikannya sungguh masih bertenaga.
Bu, sapa ia ke tetangga-tetangga yang lagi bersihin halaman. Mereka nyapa balik "hei, berangkat?" Ia jawab singkat dengan semangat, "Iya bu"
Diawali dari kumandang panggilan Salat, sampai jam 7 waktu paginya terasa sempurna.
Pelosok kota Depok, rasanya paling berperan atas kebahagiaan pagi ini. Embun, Kabut, entah apa namanya yang jelas ini bikin suasana pagi yang nyaman, dingin, penuh optimisme. Ia sepenuhnya merasa seperti Roja
Setelah rutinitas bersiap-siap,akhirnya ia menarik tuas gas, dan caw ..
Bersyukur dia tinggal di daerah kayak gini. Setidaknya dia masih bisa merasa sombong, sampe keluar dari area kelurahan.
Tepat di tugu, pembatas area kelurahan, perlahan kenyataan mulai hadir. Tapi sifat optimistiknya gak akan luntur cuma karena meninggalkan area kelurahan beberapa meter.
Lalu berkilo-kilo meter .. (Tetap optimis)
Lalu berpuluh-puluh kilo meter, dan dunia mulai menampar.
Diparkirlah si motor matic yang bernama Vera itu. Mulai tercium bau kenyataan yang telah diatur sedemikian rupa sehingga tercium seperti ini. Amis, kamu pasti gak kuat.
Setapak demi setapak, Sang Optimis mulai menaiki tangga, mencari tempat duduk, berpikir dan bekerja. Tidak banyak yang tahu bagaimana caranya bekerja. Jelas karena ia seorang diri. Tidak dipedulikan berarti sendirian bukan?
Dia seorang yang tidak bisa diam seharusnya, tapi tidak dengan sekarang. Dia cuma berkata seadanya, seperti dibentuk menjadi robot. Seperti manusia lainnya di dunia ini.
Pekerjaannya sebenarnya khusus untuk manusia, 100% pikiran manusia diperlukan dalam hal ini. Sayangnya perintah diprogram untuk robot. Ia diharuskan mencari irisan dari orang-orang yang berbeda. Produktif bukan lagi kata, bagaikan mining bit coin, ia harus mencoba seluruh kode untuk memuaskan si pemberi perintah.
Minta - Tolak - Minta - Tolak
Jika hanya itu sebenarnya bukan masalah komplek, menjadi masalah komplek ketika dia sadar dia telah menjadi robot seutuhnya, tapi ia tetap sendirian.
Sungguh, jika suatu saat nanti kamu jadi robot, kamu akan patuh. Terlebih terhadap jam istirahat pula jam pulang.
Robot pun tak pernah menikmati waktu, karena selalu menghitung waktu yang ia gunakan karena sekali lagi, ia bukan manusia.
Jam pulang yang ia patuhi pun datang dengan lambat.
Dengan ijin seadanya, ia mulai pulang dan kembali menapaki tangga yang masih bau akan kenyataan.
Agaknya optimisme itu pudar bahkan hilang meskipun ia telah menuruni tangga itu.
Menarik tuas gas kembali, dan berpikir apa yang akan ia hadapi beberapa saat lagi, setelah lampu merah kedua.
Hingga saat itu datang, tak akan kembali pula rasa percaya diri pagi tadi.
Sore, sore akan tetap sama. Lampu merah belakang kendaraan akan senantiasamenyala karena tuas rem akan sering ditekan di sepanjang jalan ini.
Berbanding lurus dengan rasa puas diri yang terlalu dalam ditekan dan lama-kelamaan hilang.
Ketika manusia lain bilang hidup bukan hanya tentang kenyamanan, Ia selalu bertanya, lalu hidup untuk apa?
Ketika manusia lain berceramah, kesengsaraan merupakan pelajaran. Ia selalu bertanya, apa belajar harus sakit?
Sore ini ada ialah tanda esok ada.
Sebuah perputaran yang selalu sama
Jenuh, tapi ia bukan lagi manusia
hingga malam menutup matanya
-Untuk Budak Korporat di seluruh dunia
Sunday, April 8, 2018

Ngobrol tidak berguna!
Di cafe epic pinggiran Jakarta/Depok/Tangsel
Playlist Daniel Caesar
Nyokap sering ngomel, "Laki-laki kok demen ngobrol ..."
Mungkin itu juga alasan gue milih komunikasi jadi bidang yang gue tekunin di perkuliahan. Jurnalistik, yang tadinya gue pikir bakal jadi ajang ngobrol one - to - one kayak Najwa Shihab gitu, kenyataannya di lapangan kami para wartawan cuma jadi penonton reality show dan menceritakan ke orang-orang lewat skill kami. Enak? ya relatif, apa yang kami dapat? banyak. Bukan jale (uang amplop) atau apa, tapi cerita. Ekspektasi tinggi tentang ngobrol sama narsum kayaknya belom bisa dirasain sama wartawan pemula, tapi seenggaknya wartawan seumur jagung ini masih bisa ngobrol sama rekan-rekan media lainnya, di obrolan itu dunia jadi semakin luas ya karena setiap cerita bisa dirasuki dengan baik. Nice yaa ...
Lalu apakah gue terjun di bidang jurnalistik setelah lulus ini? Engga ..
Tulisan paragraf pertama tadi cuma intro. Yaps gue merasa ngobrol itu lebih efektif membuka dunia daripada buku apalagi tulisan ini. Ngobrol bikin kita tau dan deket sama peristiwa apa aja yang diceritain. Bahkan dengan ngobrol bisa nambah pengalaman. Pernah gak sih bangga ngobrol sama orang yang ternyata orang hebat setelah lu kenal? itu luar biasa banget rasanya, berbagi pengalaman yang mungkin akan kita hadapi itu menyenangkan.
Semakin lama semakin gue sadari, makin dewasa kita obrolan semakin berbobot.
Pas SD kita sering ngobrolin kartun kapten tsubasa, padahal film yang ita tonton itu sama ..
Pas kuliah kita ngobrol seputar keluh kesah dosen dan cara menghadapinya, Which is ini udah ada solusi
Pas lulus kita ngobrol tentang gimana kerjaan dan di fase ini koneksi itu sangat penting jadi jangan sampe lost contact.
Ngobrol sama orang baru kenal juga ga kalah asyiknya, pernah waktu itu di Mini market di Ciledug, tepatnya sehari sebelum UN SMA gue duduk-duduk di sana. Gue sendiri, bawa laptop, dan kebelet kencing. Bingung dong gue masa gue kencing bawa laptop? .. Atas dasar kepercayaan, gue bilang ke sebelah gue (ibu-ibu), "bu saya mau ke kamar mandi, saya nitip laptop ya ..". Ibunya bilang iya doang. Dengan kecepatan ekstra gue ke bawah dan kencing (pake ngeden biar cepet) dan balik lagi ke atas, syukurlah itu ibu-ibu masih ada.
"Kalo saya jahat mah saya ambil nih laptop," kata si ibu. Gue cuma ketawa-ketawa, lalu dia bilang, "Yaudah saya juga mau ke kamar mandi, nitip laptop yaa.." --__--
Abis si ibu ke kamar mandi, gue balikin lah "Bu ini mac loh bu, hampir aja saya tuker.." Ibunya nyengir dan kita kenalan. Perkenalan tersebut sebenernya ga berfaedah buat hidup gue sekarang tapi paling engga kata-kata ibu ini memotivasi gue buat ngejar apa yang gue mau setelah ini. PTN
Singkat cerita si ibu ini alumni UI komunikasi, sekarang kerja jadi vice manager marketing di sebuah perusahaan bagus dan dia akan direkrut sebuah perusahaan singapur. Pas beberapa menit gue ngobrol, beneran dia divideo call bule singapur buat interview. Setelah dia vidcallan ama itu bule, dia yang jadi interview gue, kamu kelas berapa, rumah dimana, lulus mau ngambil apa?
Gue jawab dengan asyik lah, kelas 12 besok mau UN, rumah di ciledug, mau ngambil komunikasi Undip, ui atau ptn lah. Sekatika ibu langsung bijak, Kalo kamu bener-bener mau masuk sana pasti bisa kok. Gak ada proses yang ga sulit buat ngedapetin kesuksesan. Lalu dia cerita gimana proses dia sampe jadi vice presiden. Manjat cuy dari staff sales yang nawar-nawarin barang sampe tinggi. "Bapak saya dulu ngebiarin saya kerja keras padahal bapak saya kaya, tapi anaknya banyak," kata si ibu. Setelah semua proses pait baru dia bisa pindah ke "pohon" lain dengan leluasa. Ya pokoknya luar biasa deh apalagi dia ngehidupin anaknya sendiri kalo gak salah. Gue cukup dapet pengalaman hidup dari si ibu ini.
Lalu sekarang gue lulus, dan gokil. Proses itu nyata ...
oiya si ibu sempet pesen gini, bergaul dengan siapa aja. Jadi sudut pandang kamu luas..
Next part 2.

Menata kembali sejarah
Blog ini bersejarah banget buat hidup gue, pertama kali gue demen nulis ya dari sini. Kalau postingan yang kalian cari gaada bukannya itu gak berharga. Tapi gue nyoba buat benerin apa yang perlu diliat orang atau yang gak layak diliat orang.
So..
Wait for another interesting post yeah ..
Gue udah nyoba bikin blog baru, kemistrinya ga dapet ..
Oke cmoon kita mulai renovasi blog ini!!

